Kuyang
cerpen oleh: Khaidiri Muhdarani/ penulis FLP
Tepat
tengah malam, kuyang-kuyang itu akan beterbangan serupa api yang
menyala, melintas pucuk pepohonan, berjalan bak meteor yang melambat,
namun melucur pasti. Dari kejauhan memang kuyang adalah pemandangan yang
mungkin elok bagi orang yang tak mengetahuinya. Namun, bulu kuduk mana
yang tidak merinding jika sosok cahaya yang berkelipan bak meteor itu
adalah sebuah kepala manusia dengan isi perut berupa usus, hati, bahkan
jantung yang masih berdetak terpampang nyata, berburai dan menggantung
di sebuah kepala yang mengerikan, sebuah kepala tanpa tubuh yang
darahnya bececeran menetes dari leher yang terputus. Bukan, bukan leher
yang terputus, namun leher yang sengaja diputus atau jasad yang sengaja
memutus kepala darinya pada pekat sebuah malam yang ditentukan.
Kuyang
adalah salah satu ilmu pesugihan yang sudah dikenal masyarakat di
Kalimantan, begitu pun di Desa Guntung ini. Dengan ilmu pesugihan berupa
kuyang, konon orang yang mengaji pesugihan itu bisa melepas kepalanya
dari tubuhnya, kemudian berkeliaran menyambangi rumah-rumah para
saudagar untuk mengambil sebagian harta mereka. Kuyang hanya melakukan
aksinya di malam yang pekat serupa setan yang gentayangan. Jauh sebelum
dini hari merangkak menyambut pagi, kuyang harus segera pulang membawa
hasil pekerjaannya menyambangi rumah-rumah para saudagar. Konon kuyang
akan lumpuh atau tak bisa kembali pulang, jika dia kesiangan. Bagi yang
bermental pemberani, menemukan kuyang yang kesiangan dan tak bisa pulang
adalah serupa rezeki nomplok, alamat akan mendapatkan upah dari sang
kuyang jika berkenan mengantarkan sang kuyang pulang ke rumah.
Maka
tersebutlah Desa Guntung yang konon segelintir penduduknya beprofesi
sebagai kuyang. Dan benar saja, suatu malam akan bermunculan dan
bertebangan kuyang-kuyang pencari harta jarahan yang membumbung terbang
dari desa tersebut.
Bagi segelintir penduduk desa, menjadi kuyang
adalah pekerjaan yang menjanjikan di tengah sulitnya mencari lapangan
pekerjaan, harga bahan pokok yang makin menjulang, sementara global
warming membuat penduduk berulang kali menelan gagal panen, yang akhir
menyekik leher yang kian dihimpit beban kehidupan. Persekutuan dengan
makhluk halus berupa kemusyrikan itu tak bisa dielakan, pun warga sudah
mulai terbiasa dengan keberadaan kuyang, walaupun masih ada segelintir
orang yang gelisah dan merasa terganggu dengan keberadaan kuyang,
apalagi desanya yang mulai disebut-sebut sebagai sarang kuyang. Tak
terkecuali dengan Kyai Muhdar, tokoh masyarakat yang paling dihormati
dan paling dielu-elukan penduduk desa. Bagi Kyai Muhadar, hal ini sudah
mencoreng namanya sebagai seorang kyai. Melalui pengajiannya yang rutin
tiap senin malam ba’da isya, Kyai Muhdar selalu menyampaikan dan
menentang keberadaan kuyang. Dengan para remaja dan pemuda yang dengan
sukarela meng-khadam-kan diri kepada beliau, maka berbagai aksi dilakukan Kyai Muhdar untuk menyelamatkan umat.
Malam jum’at legi ini, Kyai Muhdar dan khadam-khadam-nya
melakukan ritual membaca ayat-ayat rukiyat di utara kampung, setelah
malam jum’at sebelumnya ayat-ayat rukiyat yang disunahkan itu dibaca di
selatan kampung. Rencananya, empat malam jum’at, beliau akan membacakan
ayat-ayat rukiyat di empat penjuru kampung, dibantu oleh khadam-khadam beliau yang sudah lama dididik ketauhidannya oleh beliau.
Pun
penduduk yang mendukung Kyai Muhdar, berbondong-bondong ikut melakukan
ritual baca ayat rukiyat itu. Namun, di sudut gelap kehidupan, di gulita
yang tak tersentuh oleh cahaya iman, para pengaji kuyang merasa risih
dan terganggu dengan ritual itu. Karena, semenjak Kyai Muhdar dan
pendukungnya membaca ayat-ayat rukiyat di empat penjuru kampung, para
pengaji kuyang mulai kehilangan kekuatan, entah kenapa mereka mulai
kesulitan melepas leher mereka untuk terbang membumbung menyentuh
brankas-brangkas para penumpuk harta. Sudah berkali-kali botol minyak
kuyang dioleskan ke leher, namun tak jua kepala melepas dari badan, tak
berbeda dengan nasib kuyang-kuyang yang lainnya, mereka juga merasa
kehilangan kesaktiannya, ada yang tak bisa melepas kepalanya, ada pula
yang bisa melepas kepala namun tak sanggup terbang, ada lagi yang bisa
terbang namun saat membumbung tinggi berusaha menerobos genteng rumah
saudagar tiba-tiba jatuh menggelinding. Tragis, saja nasib para kuyang.
Kegiatan
rutin membaca ayat rukiyat itu akhinya menjadi rutinitas kegiatan yang
dilaksanakan penduduk kampung, setelah para penduduk yang pro kyai dan
kontra dengan kuyang merasa nyaman menyaksikan kampungnya yang tak lagi
dihantui dengan kuyang-kuyang yang berterbangan. Mereka yang pro dengan
kyai tak lain adalah para saudagar kampung yang selalu membiayai dan
menyediakan fasilitas yang mumpuni untuk kegiatan pengajian rutin yang
diadakan oleh Kyai Muhdar. Para saudagar yang sungguh dermawan,
menysihkan hartanya untuk kegiatan keagamaan, menyisihkan hartanya untuk
amal jariyat, menyisihkan hartanya untuk mendukung dan menyokong
kegiatan rutin pengajian yang diisi oleh Kyai Muhdar.
Bertahun-tahun
ritual rukiyat itu dilaksanakan, hingga tak ada lagi berita tentang
kemunculan kuyang yang terbang gentayangan. Para saudagar merasa makmur
dan sejahtera karena tidak perlu lagi dihantui rasa takut disambangi
kuyang-kuyang yang menginginkan harta mereka. Harta yang mereka tumpuk
dari segala macam cara, dari berdagang, berternak, hingga masalah
hutang-piutang─yang tak kenal riba─ yang menguntungkan dan membuat harta
mereka kian menumpuk. Jaminan keamanannya adalah dengan terus
menyumbangkan sebagian hartanya kepada Kyai Muhdar dengan dalih
mendukung kegiatan majlis ta’lim yang dilakukan oleh Kyai Muhdar.
Kian
lama kian tenggelam saja keberadaan kuyang di masyarakat itu, yang
meningkat adalah kaum peminta-peminta pada sebuah tempat keramat yang
dulunya biasa saja, sekarang malah membeludak pengunjungnya. Sebuah
makam Amang Jurdi, tokoh pembela masyarakat yang gugur karena membela
masayarakat dari aksi gerombolan bersenjata puluhan tahun silam.
Gerombolan bersenjata yang melakukan pemberontakan dengan pemerintahan
di negri borneo. Konon Amang Jurdi adalah seorang pendekar hebat yang
kebal dengan senjata apa saja, termasuk senapan yang digunakan
gerombolan. Namun kelicikan para gerombolan akhirnya mengantarkan nyawa
Amang Juhdi di atas sepucuk senapan yang awalnya tak bisa menembus tubuh
beliau, namun setelah istri dan anak beliau disandra oleh gerombolan
bersenjata, beliau menyerahkan nyawa pada platuk yang ditarik oleh
gerombolan kemudian nyawa melayang bersamaan bunyi senapan yang
pelurunya pada mulut beliau bersarang, hampir menembus kepala bagian
belakang. Kematian dan perjuangan yang luar biasa dari seorang Amang
Jurdi membuatnya dianggap sebagai pahlawan oleh penduduk desa dan makan
beliau dikeramatkan.
Dulu, sering saja masyarakat desa ke makam
Amang Jurdi untuk jiarah atau membaca beberapa wiridan. Namun hanya
sekedar itu, dan sekarang keadaan jauh berbeda. Hampir setiap hari
banyak masyarakat yang berjiarah ke sana, meminta berbagai macam hal.
Dan ajaibnya adalah banyak yang berkeluh kesah tentang ekonomi kehidupan
mereka yang kian terhimpit saja, kemudian setelah pulang dari makam
Amang Juhdi mereka malah mendapat serupa rezki nomplok, entah itu ada
tawaran pekerjaan, tiba-tiba dapat arisan, tanah mereka mau dibeli
dengan harga mahal untuk pembangunan ruko, atau bahkan mendapat galuh
berkerat-kerat saat mandulang.
Kemasbukan masyarakat akan
jiarah yang berlebihan itu membaut Kyai Muhdar kembali gerah. Karena,
menurut Kyai Muhdar, ini sudah berlebihan. Kyai Muhdar adalah termasuk
orang yang suka jiarah kubur, namun hanya makam ulama sholeh yang beliau
yakini keilmuan dan kewaliannya untuk dijiarahi, pun beliau hanya
tadabbur di sana. Tak pernah sekali pun beliau meminta dengan makam.
Ketauhidan Kyai Muhdar memang diakui oleh penduduk kampung dan khadam-khadam beliau.
Tak tinggal diam dengan semua itu, Kyai Muhdar kembali melakukan aksi bersama khadam-khadam-nya,
dengan melakukan penjagaan ketat pada makam Amang Juhdi. Setiap malam
Jum’at legi dilakukan tadarusan dan pembacaan ayat-ayat rukiyat di makam
tersebut untuk menghilangkan bau-bau mistis yang menjerumuskan
kemusyrikan pada makam tersebut. Dan hebatnya Kyai Muhdar adalah tak ada
aksi beliau yang gagal dalam memberantas kemusyrikan di kampungnya.
Berkat
aksinya yang luar biasa dalam memberantas kemusyrikan, Kyai Muhdar
selalu dielu-elukan masyarakat. Sepak terjang beliau terdengar
dimana-mana. Dalam kurun waktu dua tahun saja, nama Kyai Muhdar sudah
tersohor di seluruh negri. Hingga pada suatu ketika beliau dilamar oleh
sebuah Partai Politik baru. Dan setelah beliau berpikir panjang, inilah
saatnya beliau berjuang untuk bangsanya, politik adalah kendaraan yang
tepat bagi beliau menegakkan kebenaran yang hak.
Dengan
menggandeng Kyai Muhdar, partai politik itu mendapat angin segar untuk
kemajuan partainya, dan alhasil pada pemilu partai yang baru itu sudah
meraup 13% suara. Ini sungguh awal yang bagus untuk sebuah partai
politik.
Satu tahun Kyai Muhdar menjadi pengurus partai, sebuah
berita menghebohkan masyarakat. Hasil penyelidikan KPK menyebut Kyai
Muhdah tersangkut dalam kasus suap izin usaha yang mengeruk perut bumi
banua ini. Dan diluar dugaan, Kyai Muhda terbukti bersalah dalam kasus
tersebut. Kyai Muhdar terbukti menerima suap 2,3 Milyar dari perusahaan.
Dan beliau akhirnya dijatuhi hukuman atas perbuatan beliau.
Desa
Guntung yang paling heboh dengan berita ditangkapnya Kyai Muhdar. Tak
ada yang menyangka semua ini terjadi. Rupanya terlalu sulit membebaskan
diri dari jebakan sistem pada sebuah panggung politik, bahkan untuk
seorang Kyai Muhdar. Jauh di sudut malam tak tersentuh, adalah para
pengaji kuyang bersorak kegirangan dan tepat tengah malam, kuyang-kuyang
itu kembali beterbangan serupa api yang menyala, melintas pucuk
pepohonan, berjalan bak meteor yang melambat, namun melucur pasti. Pada
tempat yang sama, makam Amang Juhdi kembali ramai dan dilakukan
pembesaran makam. Pembesaran makam itu disokong oleh saudagar-saudagar
kampung untuk menindih kuyang. Itulah cara mereka menyelamatkan harta
setelah Kyai Muhdar mendekam di juruji besi.
Astambul, 01 Mei 2012. (Ba’da Isya)
http://www.facebook.com/notes/khairi-muhdarani/kuyang/10151124845908242?notif_t=note_reply
Tidak ada komentar:
Posting Komentar